26/10/2015

MENGGAMBAR KOMIK A LA PETER VAN DONGEN

Hari minggu 25 Oktober kemarin, adalah hari yang sangat menyenangkan. Selain berkunjung ke stasiun angkasa, apa lagi yang bisa membuat hati berdebar? Bertemu komikus idola! Seorang teman memberitahukan tentang Lokakarya Grafis Novel atau Komik di Bienal Sastra, Salihara, Jakarta ini sejak sebulan lalu, tanpa pikir panjang saya langsung mendaftar. Saya baca sedikit keterangan dari tautan yang ia berikan. Nah, kebetulan juga di hari yang sama ada workshop membuat drama audio oleh Monica Canteini. Sikat!*

Dalam lokakarya ini, Peter van Dongen banyak bercerita mengenai bukunya "Rampokan Jawa & Selebes" yang sudah dialihbahasakan dan diterbitkan Gramedia tahun 2014. Kemudian ia bercerita bagaimana ia memulai riset untuk komik ini, tentang inspirasi terbesarnya dan teknis menggambar.


Tentu saja, di dalam lokakarya ini peserta diperbolehkan bertanya, tetapi kemarin sepertinya hanya 3 bapak yang mendominasi pertanyaan. Saya hanya dua kali tek-tokan, karena van Dongen ingin mendengar insight lain dari pembuat komik selain dirinya.


Rampokan Jawa, apa sih?


Komik Rampokan Jawa (1998) adalah komik keduanya setelah komik debutnya Muizentheater (1990), kemudian komik Rampokan Selebes diterbitkan enam tahun kemudian di tahun 2004. Rampokan atau Rampok Macan adalah sebuah acara yang diadakan di alun-alun kerajaan Jawa dari abad XVII hingga awal abad XX, menggunakan harimau sebagai atraksi utama yang dipajang di tengah lingkaran pria-pria bersenjatakan tombak. Harimau itu tidak pernah lepas, kalaupun berusaha keluar dari kerumunan, sudah keburu ditombak oleh pria-pria dalam lingkaran. Van Dongen menyebutkan beberapa interpretasi terhadap Rampokan, di antaranya melambangkan perjuangan masyarakat Jawa melawanan VOC.

Terlepas dari garis keturunan keluarganya yang separuh Makassar & Ternate, ia merasa tertarik untuk menuliskan tentang sejarah Indonesia, karena menurutnya pada saat itu tidak banyak cerita tentang bangsa-bangsa di Asia Tenggara pasca Perang Dunia I & II. Banyak orang menuliskan tentang sejarah dunia, terutama Eropa, pasca Perang Dunia, tetapi hanya 2 halaman saja yang menceritakan tentang Indonesia di era yang sama. Ia memilih Indonesia, dengan alasan klise bangsa barat: eksotisme. Seperti halnya Hergé dan serial Tintin, yang sangat diidolakan van Dongen, terutama Lotus Biru (Le Lotus Bleu, 1931).

"I choose Indonesia, the memory of Ternate, white beach, because it's exotic and it's a story of my grandma" 
-Peter Van Dongen


Jadi, Bagaimana Memulai Sebuah Komik a la van Dongen?


1) Riset, Riset, Riset
Van Dongen muda, yang saat itu berusia 23 tahun, memulai risetnya dari literatur yang ia dapat dan sepuluh juta kenangan dan foto-foto yang ia dapat dari keluarga ibunya. Kakeknya yang orang Makassar, Henri John Kneefel, meninggal dipenggal Jepang di tahun 1930-an. Selain dari literatur yang ia dapat di Belanda, tak segan dia mengunjungi kantor berita dan arsip nasional, termasuk mendatangi keluarganya di Ternate pada tahun 1992. Beberapa gedung, rumah dan tokoh-tokoh dalam komik ini, berasal dari foto-foto keluarganya.

Bioskop Rex dalam Rampokan Jawa & Selebes (hlm.19, 2014, Gramedia: Jakarta)
Referensi Bioskop Rex dari Grand Theater di wilayah Senen, Jakarta.

Rumah adik ibu van Dongen di Ternate
dalam Rampokan Jawa & Selebes (hlm.82, 2014, Gramedia: Jakarta)

Gedung Sociëteit De Harmonie te Makassar dalam Rampokan Jawa & Selebes (hlm.110, 2014, Gramedia: Jakarta)

Gedung Sociëteit De Harmonie te Makassar, 1930

Untuk komik Rampokan, ia melakukan riset selamat kurang lebih 3,5 tahun. Seperti halnya penulis, ada beberapa hal yang luput dalam riset dan terlanjur dimasukkan ke dalam karyanya, terpaksa dia betulkan saat cetak ulang. Misalnya pada gambar halaman 19 (terbitan Gramedia) Rampokan Jawa di atas, tampak gambar serdadu Gurkha. Dari referensi yang diperoleh van Dongen, serdadu Gurkha tampak seperti Syeikh, mengenakan sorban dan berjenggot, tetapi di literatur lain sebetulnya prajurit Gurkha berasal dari Nepal dan hanya mengenakan topi. Untuk menyiasati hal tersebut, pada cetakan berikutnya, ia total mengubah tokoh prajurit Gurkha, menjadi syeikh saja, dengan menambahkan jenggot. Hal ini tidak terlalu berpengaruh juga kepada jalan cerita.


2) Tentukan pokok pikiran dan jangan lupakan itu!
"Storytelling is the main thing (in making comics), start with main sentence and always get back to it" 
-Peter van Dongen
Sangatlah mudah untuk terbawa arus cerita, apalagi ketika kita juga menggambarkannya. Jadi, dari awal tentukan apa yang hendak kita sampaikan dalam komik tersebut, dan jangan lupa untuk mengulangnya di tengah-tengah cerita. Misalnya dalam cerita Rampokan Jawa, serdadu Belanda Johan Kneevel datang kembali ke Indonesia untuk mencari babu masa kecilnya dulu. Sepanjang komik itu, van Dongen berulang kali menyatakannya di beberapa panel. Misalnya ketika Kneevel pergi ke pasar, ia teringat akan babu Ninih yang suka mengajaknya ke pasar saat ia kecil dulu.

Jika kita tidak mengulang pokok pikiran/pokok cerita yang hendak kita sampaikan, maka pembacapun akan sulit mengerti apa yang hendak kita ceritakan.


3) Mulailah menggambar dengan membuat thumbnail

Ambil selembar kertas A4, mulailah buat kotak-kotak kecil, yang menggambarkan keseluruhan layout dari komik yang kita gambar. Gambaran aksara saja, untuk dialog dapat diletakkan di samping thumbnailnya. Tentu saja, thumbnail ini tidak dibuat untuk dimengerti oleh orang lain selain kita, jadi kita bisa bebas coret-coret.

Membuat gambaran secara menyeluruh ini penting, karena biasanya kalau kita langsung memulai dengan detail panel, waktu dan tenaga kita habis hanya untuk panel kecil dan jadi malas untuk pindah atau mengontrol keseluruhan cerita. Akibatnya, karya tinggal WIP atau work in progress abadi.

(gambar di bawah ini saya buat ulang, sesuai yang digambarkan van Dongen pada saat lokakarya lalu)


4) Sketsa kasar di lembar kertas A4

Setelah selesai membuat thumbnail, langkah berikutnya adalah "memperbesar" thumbnail itu menjadi sketsa kasar. Di sini kita sudah bisa melihat adegan-adegan, meskipun dari segi gambar belum detail sempurna.

(gambar di bawah ini saya buat ulang, sesuai yang digambarkan van Dongen pada saat lokakarya lalu)

Kita juga bisa dengan lebih serius membagi panel untuk mengejar efek-efek tertentu. Misalnya untuk efek sinematik bisa dibuat satu panel penuh (seperti panel 1 hlm. 19 di atas) atau 3-4 panel kecil-kecil. Pembagian panel dapat memberikan penekanan juga pada seberapa penting adegan tersebut.

Rampokan Jawa & Selebes, hlm. 39, 2014, Gramedia: Jakarta

Kita tidak perlu risau mengenai alur baca atau menambahkan tanda panah penanda alur gambar, karena dengan otomatis mata akan terarah dari kiri ke kanan. Kecuali pada komik Jepang yang dibaca dari kanan ke kiri. Maka dari itu di sinilah pentingnya membuat thumbnail sebelum memulai sketsa kasar.


5) Sketsa pensil (yang serius)

Peter van Dongen terbiasa menggunakan kertas berukuran 30x40 cm atau kira-kira sebesar A3 untuk sketsa seriusnya. Di tahap ini gambarnya sudah harus detail dan siap untuk proses pewarnaan. Ukuran kertas gambar yang besar memungkinkannya untuk menggambar detail dengan lebih leluasa.


6) Inking/pewarnaan dengan tinta

Tahap ini sungguh krusial, karena di sini kita "mematenkan" gambar yang akan jadi bagian dari komik kita. Banyak penulis komik seperti Katsuhiro Otomo, yang memilih menggunakan pena karena sentuhannya lebih modern, garis yang dihasilkan lebih konsisten. Namun van Dongen memilih menggunakan kuas dan tinta cina. Amboi, seperti Yuko Shimizu rupanya! Kuas yang digunakan oleh van Dongen adalah berukuran 0/00, ideal untuk menggaris dan menggambar detail.

Saya sendiri penggemar kuas bulu mata (alias kuas di bawah ukuran 1) karena alasan yang sama.


7) Jangan lupakan cliffhanger

Salah satu kutipan Wilkie Colins yang terminal adalah "Make 'em cry, make 'em laugh, make 'em wait --exactly in that order". Hal-hal yang bikin kentang (atau kena tanggung alias penasaran) adalah salah satu kunci dari sebuah komik yang menarik. Cliffhanger pada akhir plot cerita dalam fiksi, biasanya meletakkan tokoh cerita dalam dilema atau semacam shocking revelation, dengan harapan para pembacanya akan terus mengikuti jalan cerita selanjutnya. Dalam komik, cliffhanger biasanya diletakkan di panel akhir, atau jika hendak diletakkan di panel pertama, semacam rekapitulasi dari episode/cerita sebelumnya.

Di pikiran saya, cliffhanger ini semacam "pancingan", begitu lah kira-kira.


8) Don't explain everything

Jangan terlalu cerewet menjelaskan sesuatu, kecuali Marcel Proust atau Haruki Murakami. Dalam komik, kita juga berbicara melalui gambar. Tidak perlu menjelaskan latar tempat dan waktu dalam balon teks, jika pada gambar sudah tertera cukup rinci, ya meskipun hal ini tidak dilarang.
(Bagi saya pribadi sih jadi redundant, ya nggak?)


9) Sediakan stok kesabaran 10 hanggar

Membuat komik sebagian besarnya adalah soal sabar. Jangan pernah takut untuk mengulang lagi gambarmu kalau ternyata hasilnya tidak sesuai keinginan. Jangan pernah lelah mewarnai ulang, sekarang dengan adanya Photoshop, bisa mengakselerasi waktu kerja. (Kalau saya jujur saja, masih tertatih-tatih dengan proses pewarnaan digital)

Terbukalah dengan masukan-masukan dari pihak lain, misalnya diprotes oleh proofreader atau editor.

Ketika komik Rampokan Jawa & Selebes hendak diterbitkan di Indonesia, van Dongen melakukan beberapa penyesuaian atas permintaan penerbit. Misalnya pada gambar laki-laki telanjang, gambar penisnya digambar kecil saja atau tertutup celana. Juga di gambar wanitanya, yang banyak digambarkan tanpa atasan, beberapa di antaranya ditambahkan penutup dada. Menurutnya hal itu tidak mengubah keseluruhan cerita, jadi sah-sah saja dilakukan perubahan semacam ini.

Pada awalnya komik seri Rampokan dibuat dalam full color seperti komik Tintin, tetapi atas permintaan penerbit, cetakan awal harus di-tone down menjadi agak hijau. Hal ini dikarenakan penerbit di Belanda berasumsi Indonesia identik dengan hutan-hutan yang hijau dan asri. Juga jika dibuat dalam full color, pembaca pun tidak akan percaya bahwa ini terjadi di masa lampau. Van Dongen mengubahnya dengan menggunakan warna sepia, dengan alasan, bahwa yang ditulis adalah soal kota di Indonesia, bukan hutan. Juga, warna sepia menimbulkan efek atmosfer tempo doeloe.



Hore, Dapat Tanda Tangan!


Aha! Ini Momen yang sangat saya tunggu-tunggu dari dulu, karena saya ketinggalan book signing (lebih tepatnya book doodling) di acara PopCon di SMESCO tahun lalu, jadi saya berharap bisa mendapatkannya di acara ini.

Bersama beberapa peserta lain saya tekun mengantri, akhirnya dapaaaat! Horeeeee…horeeee!!!



Acara yang berlangsung lebih dari 2 jam ini sungguh membuat saya terkesan dan ingin segera pekerjaan komersil lain-lain ini lekas berakhir. Saya ingin memulai riset saya dan membuat komik panjang.

Lebih lanjut mengenai Peter Van Dongen, dapat mengunjungi situs www.petervdongen.nl (dalam bahasa Belanda).


* Saya sedang berencana membuat podcast ilmiah a la Radiolab, oleh karena itu sekarang saya sedang rajin mengumpulkan ilmunya, termasuk sampai bagaimana mengembangkan naskah dari berita atau teks, karakter, membuat dialog. Cerita lebih lanjut mengenai lokakarya drama audio ini akan saya tulis di posting terpisah.

No comments:

Post a Comment